Translate

Senin, 29 Mei 2017

Museum Tertua Indonesia Terancam Tutup



Sore sobat setia pembaca sekalian, semoga dalam keadaan sehat walafiat.
Postingan kali ini bakalan membahas salah satu cagar budaya yang terancam tutup di kota berjuluk Spirit Of Java. Dari beberapa artikel yang menceritakan tentang berbagai persengketaan tanah antara ahli waris dan pemerintah setempat, namun kali ini yang akan dibahas akan lebih kepada museum pertama di Indonesia ini.
Saat pertama kali masuk gerbang Museum Radya Pustaka pengunjung akan disambut oleh patung pujangga. Tiket masuk museum sebesar Rp. 5000, namun itu untuk museumnya saja mungkin belum termasuk perpustakaan karena saya tidak masuk perpustakaanya. Aura sakral dari museum langsung tercium seketika setelah ada bau kemenyan di ruangan. Koleksinya bermacam-macam mulai dari senjata, arca, patung, keramik, uang kuno, naskah kuno dan gamelan. Mirisnya karena kurang pendanaan museum ini terlihat sangat menyedihkan karena minim keterangan untuk tiap bendanya bahkan jika ada, bukan merupakan keterangan yang permanen melainkan hanya ditempel kertas. Menurut sebuah rumor yang beredar juga mengatakan bahwa museum mulai bangkrut ditandai dengan macetnya pembayaran gaji para karyawan. Terlebih lagi terdapat benda-benda peninggalan bersejarah yang tidak ditempatkan dengan seharusnya, namun ditempatkan di ruang terbuka. Sungguh miris mengingat ini bukan museum biasa untuk Indonesia, Radya Pustaka adalah museum pertama di Indonesia. Melihat keadannya yang sungguh menyedihkan mengingatkan pada sebuah kalimat dari pepatah yang mengatakan bahwa “Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai sejarah serta pahlawannya” lantas berarti kita sudah tidak lagi masuk sebagai kategori yang hebat karena kita abai terhadap benda yang teramat penting nilai sejarahnya untuk bangsa. Meskipun memang dibutuhkan pusat perbelanjaan, hotel, dan apertemen untuk juga mengembangkan perekonomian rakyat apakah harus benda cagar bersejarah yang menjadi tumbal kesejahteraan rakyat. Diluar sana pasti masih banyak museum serta tempat-tempat bersejarah lainnya yang sedang mengalami kesulitan karena akan dirubuhkan. Bagaikan seonggok sampah yang bisa kapan saja digusur dibuang dan kemudian dilupakan tempat-tempat bersejarah dihilangkan. Persoalannya memang pada keseriusan pemerintah ngruwat tempat-tempat bersejarahnya.
Saat keluar museum ada rasa haru karena takut itu merupakan saat terakhir kali melihat museum tersebut karena kemungkinan nanti akan ditutup. Berbeda dengan mall dan cafe yg hampir tidak pernah sepi pengunjung, anak-anak saat ini mungkin tidak sedikitpun peduli pada sejarahnya. Padahal dengan adanya sejarah mereka dapat belajar serta lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di Benua Eropa, disana keadaan museum sangat terawat dan tidak sepi pengunjung seperti di Indonesia. Anak-anak muda pun terbiasa berkunjung ke museum untuk belajar. Budaya berkunjung kesitus-situs bersajarah tersebut bukan tidak membawa pengaruh sama sekali untuk bangsanya, lihat saja saat ini bangsa kita tertinggal jauh dibanding Eropa dan hampir disegala bidang, persoalaannya juga terdapat pada minimnya cinta sejarah yang ada pada karakter anak-anak Indonesia. Mirisnya ketika saya pergi ke museum salah satu teman berkata “Mau ngapain kesana?”
Mungkin sudah saatnya semua mengintrospeksi diri termasuk saya untuk lebih mencintai sejarah terutama sejarah sendiri. Belum terlambat jika kita mau segera membuat perubahan sebelum museum di kota anda hanya tinggal kenangan dan menyisakan bangunan-bangunan megah tak memiliki nilai sejarah bangsa sedikitpun. Apa salahnya sesekali berkunjung ke museum terdekat. Selain murah kita juga bisa sambil belajar, efeknya pun juga bisa sangat besar untuk museum sendiri karena akan menambah pemasukan dari penjualan tiket.
Terakhir terima kasih karena menyempatkan berkunjung ke blog saya dan mohon untuk feedbacknya bisa langsung komentar dibawah postingan atau lewat akun twitter saya yang sudah saya sampaikan di postingan sebelumnya. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang tidak berkenan. Di blog ini saya tidak bermaksud menggurui siapapun, kita belajar bersama karena saya juga masih sangat awam di dunia tulis menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar