Translate

Sabtu, 28 Juni 2014

KEMAH BAKTI SMANTISA TAHUN 2014





                Annual event yang di adakan di salah satu SMA NEGERI di Salatiga ini kini telah memasuki tahun ke-21 nya. Acara yang melibatkan calon bantara atau yang kami sebut caban ini diadakan dalam rangka pelantikan para anggota pramuka yang berminat menjadi bantara. Di ikuti oleh sekitar 70 caban yang kini telah resmi menjadi bantara.
                Acara di mulai pada siang hari setelah terima rapot. Upacara pembukaan berada di halaman kantor guru sekolah. Setelah mengemasi barang-barang kamipun berangkat menuju Desa Ngargoluko Ampel Boyolali. Dengan menggunakan truk, perjalanan ditempuh sekitar 1 jam. Setelah sampai disana kami mendirikan tenda terlebih dahulu agar kami dapat meletakkan barang-barang bawaan kami untuk 4 kedepan di tempat yang teduh. Tepatnya di lapangan desa yang cukup luas, kami mendirikan tenda kami dan setelah itu sejenak beristirahat untuk melepas penat yang di lanjutkan makan siang.

                  
Matahari pertama di Desa Ngargoluko..

Spesial picture from: Afifah Ainun F.
                Diawali dengan kegiatan jalan-jalan di sekitar desa. Hawa pagi itu begitu dingin, mungkin karena tubuh kami memang belum beradaptasi dengan lingkungan. Dengan memakai baju hangat kamipun tetap bersemangat untuk berjalan-jalan pagi, meski udara begitu dingin saat itu, foto berikut menjadi buktinya



Karena saat itu tidak membawa jurnal kegiatan, saya tidak dapat menuliskan urutan kegiatan kami secara runtut dan detail. Yang paling saya ingat saat itu salah satunya saat di hari kedua kami bermain dengan anak-anak SD Ngargoluko. Kegiatan yang diawali permainan sederhana itu terasa begitu berkesan bagi kami khususnya saya karena suka dengan anak kecil. Lewat permainan sederhana seperti estafet kelereng dan estafet air, dll. Menjadi kegiatan yang menjadi salah satu syarat kecakapan kami untuk mengurus junior kami nantinya meskipun lewat anak-anak SD. Dengan diakhiri pembagian buku di sekolah mereka, ada kejadian yang mengharukan ketika kami bertemu anak gadis yang begitu sopan. Ternyata gadis itu adalah juara kelas di sekolahnya. Pribadinya yang ramah dan sopan terhadap kami, menjadikannya perhatian khusus bagi caban-caban dan DA. Hingga saat pembagian buku tulis saat itu saya menghampirinya secara khusus untuk memberikan buku sambil menanyai apa cita-citanya kelak. Senang rasanya mengingat masih ada anak yang begitu sopan dan pandai ditengah perkembangan dunia yang telah menggerus kearifan pribumi yang dewasa ini tidak lagi pandang bulu hingga anak-anak di bawah umur pun ikut terkena imbasnya. Masih ada Siti nama gadis polos yang manis itu, seperti membuka harapan baru bagi dunia. Di negara yang akan selalu butuh penerus bangsa ini, yang cerdas namun masih tertanam jiwa pribumi di dalamnya.
                Selain kegiatan bersama anak-anak SD kami juga mendapat berbagai ilmu di sesi materi yang di berikan para pemateri dari berbagai bidang seperti PMI misalnya, yang menjelaskan tentang bagaimana menjadi orang yang dapat melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan dan mengatasi berbagai macam luka seperti luka digigit ular, luka bakar, dll.
                Di malam terakhir agenda kegiatan kami begitu padat. Setelah kegiatan siang kami hanya beristirahat selama 1 jam di tenda, setelah itu kami di bangunkan kakak-kakak DA.
Kegitatan malam hari dimulai dengan renungan tentang bagaimana perilaku kurang atau tidak bersyukur kami dengan apa yang telah diberikan orang tua maupun yang lainnya. Dengan di isi oleh suara yang terdengar seperti alumni dari sekolah kami yang dulu juga menjadi DA,  karena saat itu kami disuruh memejamkan mata. Sesekali terdengar bunyi orang menangis karena renungan itu.
                Setelah selesai akhirnya kami sampai di inti acara yang sekaligus menjadi penutup acara kemah bakti. Acara yang bagi sebagian orang yang takut akan hal-hal berbau mistis mungkin kegiatan itu menjadi kegiatan yang paling dibenci mereka. Entah apa namanya aku menyebutnya jerit malam. Jerit malam kali ini begitu berbeda dengan jerit malam yang pernah saya alami di kemah-kemah sebelumnya, bahkan menjadi jerit malam yang mungkin paling fantastis bagi seorang penakut seperti saya.
                Saat itu satu persatu dari kami diberi pengarahan oleh seseorang yang sepertinya juga alumni. Kami diberi tahu untuk tidak menengok ke belakang ketika sudah jalan dan diminta untuk mengikuti arah senter yang diberikan kepada kakak-kakak senior. Saat itu karena saya ingin buang air kecil saya berjalan terlebih dahulu dari teman-teman yang lain. Dalam hati saya sudah sangat ingin menyerah di kegiatan itu karena pasti akan sangat menyeramkan. Namun salah satu alumni mengatakan bahwa jalan yang nantinya d lalui itu dekat. Setelah menempuh sekitar 30 meter saya yakin saja karena ketika mulai berjalan ada cahaya yang membuat saya lega karena saya pikir telah sampai. Ternyata disana ada cahaya senter yang menjadi petunjuk jalan bagi saya. Tanpa mengatakan sepatah katapun mereka yang memegang senter terlihat menyeramkan karena sama sekali tidak berbicara. Dan lagi mereka hanya menunjukkan jalan lewat cahaya senter yang setelah itu mereka matikan ketika kami telah menuju kejalur yang benar, mereka tidak mengantarkan kami. Hanya menununjukkan cahaya ke jalur yang harus kami lewati. Di pos pertama saya melihat dua orang yang tengah duduk di tempat duduk yang kami sebut “buk”. Seorang wania dengan rambut tergerai panjang menutupi wajahnya berada di sebelah kanan jalan sambil menanyai saya “Mau kemana mbk?”. Saya yang saat itu tengah tegang kaget melihatnya mebuat kaki saya gemetaran. Tak jauh dari sana ada kakek-kakek yang mengikuti saya yang sangat dekat dan hampir berada persis di belakang saya menggunakan tongkat, namun setelah itu ia pergi. Saya tak menggubris hantu-hantu gadungan yang tetap saja bagi saya menakutkan itu. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan yang cukup jauh yang saya sadar bahwa perkataan salah satu alumni adalah bohong belaka. Mungkin agar saya tidak takut. Sebelumnya saya yang hampir menyerah saat itu ditenangkan oleh seseorang yangmengatakan bahwa jalannya dekat. Perjalanan menjadi lebih seram dan jauh karena di sepanjang jalan desa tidak ada lampu. Apalagi ketika lewat gang pedesaan yang sempit dan menyeramkan karena seperti di pedesaan pada umumnya yang tidak padat penduduk. Jadi terkadang jarak anatara rumah satu dengan rumah lainnya cukup jauh diselingi oleh kebun.
                Lega rasanya jerit malam itu ketika saya telah menyelesaikan jerit malam. Berakhir di balai desa sesampainya disana saya disuruh mencium ujung bendera lalu hormat sambil mengucapakan janji yang tidak terlalu saya ingat saat itu karena masih sedikit speechless sehabis jerit malam. Yang saya ingat sebelumnya saya disuruh cuci muka menggunakan air bunga.
                Kegiatan berakhir dini hari, sekaligus menjadi kegiatan pelantikan kami sebagai bantara.
Kemah bakti ini begitu berkesan karena, kami dituntut untuk hidup sederhana, makan sederhana, belajar tentang leadership, untuk tidak menjadi anak yang manja dan penakut dan masih banyak manfaat yang dapat dipetik dari kemah tersebut. Kegiatan yang di kemas begitu apik yang pastinya telah di persiapkan dengan matang oleh para senior kami ini, sangat berkesan bagi saya dan teman-teman. Juga menjadi semacam seremonial pertanda kini kami telah menerima estafet yang diberikan senior kami untuk meneruskan perjuangan memajukan di sekolah kami SMA NEGERI 3 SALATIGA.

DITULIS OLEH : SEKAR AYU M.
26 JUNI 2014
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar